Acara Kesukaan

Aku duduk manis di sebuah sofa. Menunggu acara televisi kesukaanku mulai. Sebuah acara sitkom yang sangat aku dan nenekku sukai. Kami selalu menunggu acara itu tiap sore hari. Khusus aku, syarat tambahan agar aku bisa menonton acara itu adalah mandi. Iya, aku harus mandi sore dahulu sebelum menonton acara itu.
Jika aku sedang bermain di luar, nenekku mencariku dan memanggil namaku untuk menyuruhku pulang. Kata nenek, “ Ayo pulang, sebentar lagi acaranya mulai". Aku pun menuruti permintaan nenek, karena aku juga menyukai acara tersebut.
Setiap sore hari, aku dan nenek tertawa bersama sambil menonton acara kesukaan kami. Sungguh, tidak terlewatkan satu hari pun.
Satu tahun kemudian, disaat kami masih sering menontonnya bersama, acara itu pun sudah tidak lagi tayang. Aku dan nenek pastinya bersedih, mengingat acara yang kami sering tonton berdua kini sudah tidak ada lagi. Kami bingung tidak ada lagi yang bisa membuat tertawa di sore hari. Mungkin hanya nenek, kalau aku kan masih bisa bermain dengan teman diluar.
“ Nek, aku main keluar dulu, ya! “ Pamit ku pada nenek.
Semenjak acara kesukaanku sudah tidak ada, kini rutinitas baruku adalah bermain dengan temanku hingga sore menjelang maghrib. Aku pun tertawa melihat tingkah temanku yang lucu. Aku dan temanku tak jarang membuat permainan baru yang membuat kami lupa waktu.
Lagi asiknya bermain, tiba-tiba nenek memanggilku,
“ Ayo pulang, sudah sore, waktunya  mandi ! “
Tawa kami pun terdiam, aku pun segera menghampiri nenek.
“ Sebentar lagi, ya, nek! Aku pasti langsung mandi ketika pulang! “ Jawabku.
Nenek pun hanya tersenyum dan berkata,
“ Yasudah, jangan main terlalu jauh, ya! Dan jangan pulang terlalu malam! “ Ucap nenek sambil mengelus rambutku.
Aku pun kembali bermain dengan temanku, sedangkan Nenek kembali pulang ke rumah.
Setiap hari, aku selalu bermain dengan temanku hingga sore menjelang maghrib. Setiap hari pula, aku selalu menolak ketika nenek memintaku pulang untuk mandi. Jawabku masih sama,
“ Nanti saja, nek. Aku pasti langsung mandi ketika pulang. “
Dua bulan kemudian, aku mendengar bahwa Nenek mulai sakit-sakitan. Sejak itu pula, Nenek sudah tidak lagi keluar rumah untuk menyuruhku pulang, karena Nenek harus sering beristirahat di kamar. Aku pun bebas bermain hingga sore menjelang maghrib.
Lima bulan kemudian, Nenek harus dilarikan ke rumah sakit karena penyakitnya yang semakin parah. Aku lihat kamar Nenek, memang sudah seperti kamar rumah sakit, penuh aroma obat-obatan.
Nenek pun diharuskan menginap di rumah sakit.
Satu bulan kemudian, ketika aku sedang bermain dengan temanku, tiba-tiba aku mendengar suara ibuku,
“ Nak, ayo pulang! Nenek mencarimu! “ Rupanya Ibuku memanggilku.
Aku segera menghampiri Ibuku, dan bertanya,
“ Nenek sudah pulang, bu ? “
Ibuku segera menarikku ke rumah, aku bingung sampai-sampai tidak sempat mengucapkan pamit kepada temanku. Mungkin temanku juga sama bingungnya denganku.
Ibu segera menyuruhku berganti pakaian. Aku melihat Ibu, ayah, dan kakakku juga sudah memakai pakaian yang rapi.
“ Kita mau kemana, bu ? “ Tanya ku, masih kebingungan.
“ Kita ke rumah sakit, nak. Jemput nenek. “ Jawab Ibu.
“ Asik, nenek pulang! “ Balasku, senang.
Kami pun segera masuk ke dalam mobil. Sore itu, aku dan keluargaku pergi menuju rumah sakit untuk menjemput Nenek.
Selama di perjalanan, aku melihat ibuku sibuk dengan layar hapenya. Begitu juga kakak dan ayahku di kursi depan, sama sekali tidak mengobrol seperti biasanya.
Sesampainya di rumah sakit, aku dan keluargaku segera masuk ke kamar nenek.
Aku bingung, kamar nenek dipenuhi dengan dokter yang melihat nenek dengan tatapan sendu. Dokter pun bertanya,
“ Sudah bisa dilepas, bu ? “
Ibu hanya mengangguk lemas. Sedangkan ayah tak henti-hentinya mengelus pundak ibu.
Dokter melepas alat yang terpasang di tubuh nenek, kemudian menutupnya dengan kain putih.
Ibu menghampiriku, dan berkata,
“ Nak, kita benar-benar sudah menjemput nenek. Sekarang nenek sudah pulang. “ Suara Ibu bergetar, kemudian menangis.
Seketika aku sadar, hari itu nenek baru saja benar-benar pulang ke hadapan Sang pencipta. Tubuhku lemas, aku mulai ikut menangis.
Kini, ketika aku sedang bersantai di depan televisi. Aku tidak sengaja melihat acara kesukaanku ditayangkan ulang di saluran yang sama. Tanpa sadar air mataku menetes, mengingat suara tertawa nenek.
“Ah, kalau saja acara ini tidak pernah habis. Mungkin hingga sore ini, aku masih sedang tertawa bersama nenek menonton acara ini. “ Gumamku.
Sore itu pun, aku kembali menonton acara kesukaanku, sendirian.
Catatan :
Hari ini, tepatnya 12 Maret, Almahumah nenek berulang tahun. Gue sengaja nulis cerita ini, karena ini pengalaman gue sama beliau yang masih membekas sampe sekarang. Waktu itu gue masih kelas 3 SD, kira-kira usia 8 tahun.
Dua hari nanti, tepatnya 14 Maret, giliran gue yang berulang tahun. Biasanya karena harinya berdekatan, ulang tahun kami selalu dirayakan bersama.
It's a beautiful Memories. ❤

Comments